Sabtu, 08 September 2012

Hukum Doa Bersama Dalam Islam



Syaikh bin Baaz berkata, kata duburush shalah bisa berarti akhir shalat, tetapi sebelum salam, juga bisa berarti sesudah salam (langsung). Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan kepada kedua pengertian itu. Namun kebanyakan hadits menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah akhir shalat, tetapi sebelum salam, karena hal itu ada kaitannya dgn doa (Petikan dari fatwa Syaikh bin Baaz dalam Fatawa Muhimmat Tata’allaqu bish Shalah)Ibnu Wahdah meriwayatkan dengan sanad sampai ke Abu Utsman An Nahdi, beliau mengatakan: Salah seorang gubernur yang di angkat oleh Khalifah Umar ibnu Khattab berkirim surat kepada khalifah Umar, isi suratnya: “Sesungguhnya di sini terdapat sekelompok orang yang berkumpul lantas memanjatkan doa kebaikan untuk kaum muslimin secara umum dan penguasa secara khusus.” Balasan surat dari Khalifah Umar: “Hendaknya engkau menghadapku serta membawa mereka”. Setelah gubernur tersebut tiba, khalifah Umar berpesan kepada penjaga rumah beliau untuk menyiapkan cambuk, tatkala mereka menemui khalifah Umar, beliau mencambuki pimpinan kelompok tersebut. Pimpinan kelompok tersebut berkata, “Wahai amirul mu’minin kami bukanlah orang-orang yang di maksud oleh gubernur tersebut, yang dimaksudkan oleh gubernur adalah sekelompok orang yang berasal dari daerah timur.” (Maa jaa fii bida’ karya Ibnu Wahdah hal. 54 & Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/558 dan sanadnya berderajat hasan. Lihat Adz Dzikir Al Jama’i baina Al-Ittiba’ wal Ibtida’ karya Dr. muhammad bin Abdurrahman Al Khumais hal. 29).

Dalam hal 16 Dr. Al Khumais berkata, “Termasuk bentuk zikir jama’i yang ada saat ini adalah berkumpulnya banyak orang di suatu masjid karena negeri tersebut telah terjadi bencana. Mereka lalu berdoa kepada Allah secara serempak agar bencana segera berakhir”. Pada akhir pembahasan di hal 54, Dr Muhammad Al Khumais mengatakan, “Jelaslah bahwa zikir jamaah itu tidak memiliki dasar dalam agama Allah, karena tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi dan para sahabat berzikir dengan berjamaah”. Hal tersebut juga tidak dilakukan oleh salafus shalih bahkan mereka mengingkari orang yang melakukannya.

Tentang hal ini pernah ada orang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah anda tidak menyukai jika ada sekelompok orang berkumpul untuk berdoa sambil mengangkat tangan?” Jawaban beliau “Aku tidak membencinya asalkan berkumpulnya itu tidak dengan sengaja, kecuali mereka berjumlah banyak.” (Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim 2/630 & Al Amru bittiba’ hal. 180. Lihat Qowaid ma’rifati Bida’ hal. 52).

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini:"Di negeri kami ada dua jama'ah. Masing-masing mengaku bahwa dialah yang benar. Selesai shalat, kami lihat salah satu jama'ah itu mengangkat tangan dan berdo'a secara berjama'ah dengan lafaz seperti berikut ini: اللهم صل على محمد عبدك ورسولك النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليما(Ya Allah limpahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, Nabi yang Ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Juga kepada keluarga dan para sahabatnya."

Ada do'a lain yang mereka namakan Al Fatih. Sementara jama'ah lain, ketika Imam mengucapkan salam, mengatakan:"Kami tidak akan melakukan seperti perbuatan jama'ah pertama. Dan ketika jama'ah yang pertama ditanya, mereka katakan bahwa do'a ini adalah pelengkap atau penyempurna shalat, dan tidak lain hanyalah kebaikan. Adapun jama'ah kedua, mereka mengatakan bahwa do'a ini adalah bid'ah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam dan mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.
"Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak."


"Do'a sesudah shalat fardlu dengan mengangkat kedua tangan baik oleh Imam maupun ma`mum, sendirian atau bersama-sama, bukanlah sunnah. Amalan ini adalah bid'ah yang tidak ada keterangannya sedikitpun dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu 'anhum. Adapun do'a tanpa hal-hal demikian, boleh dilakukan karena memang ada keterangannya dalam beberapa hadits. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan oara sahabatnya. (Lajnah Daimah).

Do'a dengan suara keras setelah shalat lima waktu, ataupun sunnah rawatib. Atau do'a-do'a sesudahnya dengan cara berjama'ah dan terus-menerus dikerjakan merupakan perbuatan bid'ah yang munkar. Tidak ada keterangan sedikitpun dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam tentang hal ini, juga para sahabatnya radliyallahu 'anhum. Barangsiapa yang berdo'a setelah selesai shalat fardlu atau sunnah rawatibnya dengan cara berjama'ah, maka ini adalah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan apabila mereka menganggap orang yang mengingkari hal ini atau tidak berbuat sebagaimana yang mereka lakukan sebagai orang kafir atau bukan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, maka ini adalah kebodohan dan kesesatan serta memutarbalikkan kenyataan yang ada. (Lajnah Daimah, lihat Fatwa Islamiyah 1/318-319 ).


Misalnya juga firman AllahS.W.T. dalam surat Jumu'ah:10
" Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah dkamu di muka bumi,
dan carilah karunia Allah dan berdzikirlah kalian kepada Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung".

Bagaimana dia memahami kalimat udzkurullah ( berdzikirlah
kalian ) dalam ayat ini? Padahal ayat ini sangat jelas, bahwa berdzikir ini
setelah Allah S.W.T. memerintahkan untuk bertebaran. Ini menunjukan, bahwa
dzikir itu tidak mesti harus bersama, bahkan tidak ada contohnya. Seandainya
ada contoh dari para salafus sholih, kami akan melaksanakan dan kami akan
mendukungnya.

Misalnya lagi, Allah berfirman dalam Surah Al Anfal:45

"Hai, orang-orang yang beriman. Apabila kamu memerangi pasukan ( musuh ),
maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah ( nama ) Allah sebanyak-banyaknya
agar kamu beruntung".

Apakah pernah ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi s.a.w.
dalam suatu peperangan memimpin para sahabatnya berdzikir dengan satu suara?
Padahal peperangan sangat banyak dan riwayat mengenai kejadian dalam medan
tempur juga banyak. Ini menunjukan bahwa dzikir disini, meskipun menggunakan
dhamir jama' tetapi dalam pelaksanaannya secara sendiri-sendiri.

Surah Al Baqoroh:198 Allah berfirman :

"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berdzikirlah kepada Allah di
Masy'aril Haram. Dan berdzikirlah ( dengan menyebut )Allah sebagaimana yang
ditunjukanNya kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar
termasuk orang-orang yang sesat".

Masy'aril Haram adalah nama sebuah bukit di Mudzalifah.
Seandainya dhamir jama' difahami dengan bolehnya berdzikir secara
bersama-sama dengan di komando, tentu Rosulullah s.a.w. sudah memberikan
contoh, atau beliau memerintahkan kepada shahabat untuk membuat halaqah
dzikir, lalu berdzikir dengan satu suara, karena pada saat ini, ada
kesempatan dan banyak orang yang sedang berkumpul.

Namun kami belum menemukan satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa nabi s.a.w
dan para sahabat melakukan hal itu di Masy'aril Haram. Padahal, mereka
merupakan generasi terbaik yang sangat bersemangat dalam berbuat kebaikan.
Memang disyari'atkan mengeraskan suara dalam bertalbiah, tetapi tidak
dipimpin, masing-masing bertalbiah secara sendiri-sendiri. Dan ini ada
riwayat yang memerintahkannya:

" Manakala Rosulullah tidak melakukannya padahal beliau s.a.w. mempunyai
kesempatan dan tidak ada sesuatu yang menghalangi beliau, ini menunjukan
bahwa perbuatan itu ( dzikir bersama ) tidak disyari'atkan".

Kesimpulannya ini adalah dalil-dalil umum. Untuk melaksanakannya perlu
contoh dari Rosulullah s.a.w. dan para sahabat. Lebih-lebih yang berkaitan
dengan cara beribadah. Karena dzikir termasuk cara beribadah.


Syaikh Muhammad Shalih Al 'Utsaimin :

Sesungguhnya dzikir jama'i termasuk bid'ah dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabat.
Sesungguhnya yang dianjurkan setelah shalat adalah berdzikir kepada Alloh secara sendirian, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam.
Dzikir tersebut boleh dibaca dengan suara keras, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dari hadits Ibnu Abbas Rodiallahu 'anhu
bahwa ia berkata,

"Berdzikir dengan suara keras setelah selesai shalat adalah dilakukan pada masa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam ".

dari kitab :
Fatwa-Fatwa Syaikh Al Utsaimin
judul asli : Fatawa Fadhilatusy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
penerbit edisi asli : Maktabah Ibnu Taimiyah
penyusun : Fayiz Musa Abu Syai


Syeikh bin Baz Rohimahulullahu ta'alaa

Tidak disebutkan pula dalam fatwa tersebut bahwasanya ada hadits yang menunjukkan do'a itu dengan dikomandoi

Untukmu Wahai Mujahidah...

Janganlah sedih wahai Ummu Asy Syahid…


Sesungguhnya anakmu telah mati syahid walaupun orang-orang bathil dan sesat itu membencinya, mereka mengatakan apa yang diinginkan oleh thoghut, dan tidak mengatakan apa yang diinginkan oleh agama mereka yang telah mereka jadikan baju. Mereka mengatakan apa yang diinginkan oleh thoghut pada hari ini, mereka berkata bahwa jihad itu haram, di setiap zaman dan tempat. Mereka menginginkan untuk membacakannya dari ayat-ayatAl Qur’an. Akan tetapi sangat jauh… karena Al Qur’an memiliki Robb sebagai penjaganya… Mereka berkata bahwa anakmu yang telah tertumpah darahnya sebagai pembela agama tengah berjalan mengekor di belakang fitnah. Bahwa dia hanyalah seorang anak yang tertipu, dia itu khowarij… dia itu memiliki pemikiran yang rusak dan menular…Mereka juga membolak balikkan ayat-ayat Al Qur’an sesuai apa yang diinginkan oleh thoghut yang mereka sembah-sembah, mereka telah menyembunyikan apa yang Alloh berikan kepada mereka berupa keterangan-keterangan dan petunjuk. Mereka sebenarnya mengetahui ilmunya akan tetapi mereka diam tidak mengatakannya. Alloh telah mengancam orang yang melakukan amalan mereka itu dengan pecutan dari api neraka pada hari kiamat nanti, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya.
Karena para thoghut itu menginginkan mereka untuk itu, dan memperalat mereka untuk kebutuhan mereka yang keji dan jahat. Jika besok Amerika jatuh maka para thoghut tersebut akan bersekutu dengan para musuh Amerika supaya dapat mengalahkan peperangan melawannya. Dan menganggapnya sebagai amal yang paling utama.
Jika kutanyakan kepadanya apa dalil kalian? Dan apa yang merubah kalian?
Mereka akan menjawab: Kemaslahatan atau kepentingan umum… mereka telah mendahulukan kepentingan dari pada semua ayat Qur’an dan dari pada sebaik-baik perkataan manusia.
Wahai Ummu Syahid…

Mereka telah menuduh anakmu dengan sifat-sifat keji dankotor. Padahal sebenarnya demi Alloh… mereka itulah yang keji dan kotor. Mereka itulah yang telah mengkhianati agama Alloh ketika mereka dibutuhkan, dan di waktu hanya sedikit sekali para penolong agama. Maka kukatakan kepada mereka: Celakalah dan hancurlah mereka… Ya demi Alloh!!
Sesungguhnya Ummu syahid telah menemui perpisahan dengan anaknya, kemudian ditambah lagi dengan musibah dan ujian oleh orang-orang tersebut, wahai seandainya mereka itu diam dan tidak bicara tentang kehinaan mereka, sampai-sampai orang-orang awam pun percaya dengan berita dusta mereka. Di antara manusia ada yang menjauhinya walaupun hanya sekedar untuk mengatakan berbela sungkawa kepada ummu syahid disebabkan dia mengikuti fatwa-fatwa yang telah yang menguatkannya…semoga dia disegerakan untuk ke neraka.
Mereka telah menghukuminya dengan masuk ke dalam api neraka!!! Padahal mereka katanya menghindari sikap mengkafirkan orang!! Manakah yang lebih berat di sisi Alloh bagi kalian? Mengkafirkan orang atau menghukumi dengan neraka?
Maka benarlah sabda Rosululloh SAW bahwa mereka itua dalah para pemimpin kebodohan, penyeru kesesatan, dan mereka itu dimintai fatwa lalu memberikan fatwa tanpa ilmu.
Demi Alloh… kami tidak mencela pemimpin yang berdosa dan dholim dengan dosa dan kedholiman dia sebagaimana kami mencela mereka. Kebanyakan yang ditunggu oleh umat dari parapemimpin dholim adalah kekerasan, kedholiman dan kekejaman. Akan tetapi apa yang ditunggu dari orang-orang itu? Umat menunggu mereka supaya menerangkan kebenaran, namun mereka menutupi kebenaran dari umat dan telah mencampur adukkan kebenaran dengan kebathilan, dan mereka berkata untuk kebathilan. Ini adalah bathil!! Maka jangalah engkau perhatikan wahai Ummu Syahid… bahkan janganlah kalian dengarkan dari mereka wahai umat Islam…
Dan berhati-hatilah sebagaimana kamu berhati-hati darimusuhmu. Karena sesungguhnya hari ini mereka telah berdiri dibarisan musuh. Maka bersihkanlah tanganmu dari kekotoran dankenistaan mereka, sesungguhnya hati mereka telah dipenuhidengan kecintaan kepada dunia dan perbendaharaan mereka jugadipenuhi dengan emas dan rasa takut mati sampai merekamenemui kaki-kaki musuh mereka yang mereka takuti.
Janganlah engkau bersedih hati wahai Ummu syahid… Dan ingatlah bahwa anakmu akan datang pada hari kiamat dengan izin Alloh, sebagai seorang yang mati syahid, lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk (minyak kesturi), tidak hanya dapat memberikan syafaat untukmu seorang saja, tidak! Tapi untuk tujuh puluh dari keluarganya… dan diletakkan di atas kepalannya mutiara dari yaqut yang itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
Selamat bagimu wahai Ummu Syahid…
Engkau akan bangga pada waktu itu, walaupun mereka itu banyak yang mencela. Kepalamu akan tegak tinggi-tinggi menghadapinya.
Ummu Syahid…

Engkau mengingat anakmu sedangkan dia melantunkan sebuah lagu dengan penuh kesabaran dan keteguhan:

“Wahai ibuku, jika air matamu mengalir…
Atau engkau mengingat pertemuan…
Maka akan dijanjikan bagimu memory…
Dan menjadikan tangismu semakin bergolak…
Maka teguhkanlah dengan kesabaran sesaat…
Kemudian kirimkan doa kepadaku…
Dan ingatlah suatu hari yang sangat dekat…
Di sisi Robbku di atas langit…
Inilah pelipur lara wahai hatiku…
Ketika pelipur lara itu bermanfaat bagimu…

Wahai Ummu Syahid…

Bersabarlah karena sesungguhnya janji untukmu adalah surga.

Kamis, 06 September 2012

Download Ebook Mewujudkan Keamanan Di Zaman Serba Tak Aman

Download Ebook "Mewujudkan Keamanan Di Zaman Serba Tak Aman"


Asy-Syifa’ binti Al-Harits Radli Allahu 'Anha

  • Asy-Syifa’ binti Al-Harits Radli Allahu 'Anha





Nama lengkapnya adalah Asy-Syifa’ binti Abdullah 
bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad 
bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi 
bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah.

Asy-Syifa’ radhiyallahu ‘anha masuk Islam sebelum hijrahnya,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan 
beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan 
termasuk wanita yang berba’iat 
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam
Beliaulah yang disebutkan dalam 
firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu 
perempuan-perempuan yang beriman, 
untuk mengadakan janji setia bahwa
 mereka tidak akan
 mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, 
tidak akan mencuri, tidak akan berzina, 
tidak akan membunuh anak-anaknya, 
tidak akan berbuat dusta yang 
mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka,
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik,
maka terimalah janji setia mereka dan 
mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. 
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
 (Al-Mumtahanah: 12)

Asy-Syifa’ termasuk wanita yang cerdas dan utama, 
beliau seorang ulama di antara ulama dalam Islam dan
 tanah yang subur bagi ilmu dan iman. 
Asy-Syifa’ radhiyallahu ‘anhamenikah dengan 
Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi 
dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau
yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah. 
Asy-Syifa’ dikenal sebagai guru dalam membaca dan
menulis sebelum datangnya Islam,
sehingga tatkala beliau masuk Islam
 beliau tetap memberikan pengajaran 
kepada wanita-wanita muslimah dengan 
mengharapkan ganjaran dan pahala. 
Oleh karena itulah, 
beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. 
Di antara wanita yang dididik oleh Asy-Syifa’ adalah 
Hafshah binti Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anha,
istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam .

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
meminta kepada Asy-Syifa’ untuk 
mengajarkan kepada Hafshah tentang menulis dan 
sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa). 
Asy-Syifa’ berkata,

“Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam 
masuk sedangkan saya berada di samping Hafshah,
 beliau bersabda: 
‘Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah
 sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis’.”
 (HR Abu Daud).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa’ 
adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, 
maka tatkala beliau masuk Islam dan 
berhijrah beliau berkata kepada
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
“Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah 
dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda.
 Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
“Perlihatkanlah kepadaku.” Asy-Syifa’ berkata, 
“Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau
 yakni meruqyah penyakit bisul.”
Kemudian,
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, 
“Meruqyalah dengan cara tersebut dan
 ajarkanlah hal itu kepada Hafshah.”

Di antara yang termasuk ruqyah adalah do’a: 
“Ya Allah Tuhan manusia, 
Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, 
karena Engkau Maha Penyembuh, tiada
 yang dapat menyembuhkan selain Engkau, 
sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi.”
 (HR Abu Daud).

Inilah, Asy-Syifa’ telah mendapatkan bimbingan yang banyak dari 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam . 
Sungguh Asy-Syifa’ sangat mencintai 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana 
kaum mukminin dan mukminat yang lain, 
beliau belajar dari hadis-hadis 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak 
tentang urusan dien (agama) dan dunia. 
Beliau juga turut menyebarkan Islam dan 
memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah 
untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan. 
Di antara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah 
putranya yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, 
hamba sahayanya yaitu Ishak dan Hafshah Ummul Mukminin serta yang lain-lain. 
Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, 
menjaganya dan mengutamakannya dan
terkadang beliau mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, 
asy-syifa’ juga menghormati Umar, 
beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq (jujur), 
memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, 
bertakwa dan berbuat adil. 
Suatu ketika asy-Syifa’ melihat ada rombongan pemuda
yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, 
beliau bertanya, 
“Apa ini?”Mereka menjawab, 
“Itu adalah ahli ibadah.” Beliau berkata: 
“Demi Allah, Umar adalah orang yang
 apabila berbicara suaranya terdengar jelas, 
bila berjalan melangkah dengan cepat, 
dan bila memukul mematikan.”

Asy-Syifa’ menjalani sisa-sisa hidupnya setelah 
wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
dengan menghormati dan menghargai pemerintahan Islam 
hingga beliau wafat pada tahun 20 Hijriyah.

Ummu Umarah Radli Allahu 'anha


Kehidupan dunia dengan segala penderitaannya seolah tak lagi berarti baginya, manakala dia telah mendengar janji indah tentang surga. Sepenuh pengorbanan jiwa dan raga dia berikan untuk Allah dan Rasul-Nya.
Mungkin orang yang belum pernah mendengar namanya akan mengernyitkan dahi sembari bertanya, siapakah dia? Namun tak mungkin diingkari, dia adalah seorang shahabiyah yang memiliki untaian kemuliaan besar. Kemuliaannya tertulis dalam sejarah kaum muslimin. Dia bernama Nusaibah bintu Ka’b bin ‘Amr bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar radhiallahu ‘anha. Ibunya bernama Ar Rabbab bintu ‘Abdillah bin Habib bin Zaid bin Tsa’labah bin Zaid Manat bin Habib bin ‘Abdi Haritsah bin ‘Adlab bin Jasym bin Al Khazraj.
Ummu ‘Umarah dipersunting oleh Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar. Mereka dikaruniai dua orang putra, ‘Abdullah dan Habib, yang kelak di kemudian hari menjadi shahabat RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyertai beliau dalam medan peperangan. Sepeninggal suaminya, Ummu ‘Umarah menikah dengan Ghaziyah bin ‘Amr bin ‘Athiyah bin Khansa’ bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjarradhiallahu ‘anhu. Dari pernikahan mereka, lahir Tamim dan Khaulah.
Ummu ‘Umarah radhiallahu ‘anha menyambut datangnya seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah keislamannya itu, Allah Subhanahu wa Ta’alamenganugerahkan banyak kemuliaan padanya. Satu per satu peristiwa besar turut dilaluinya. Dia salah satu wanita yang hadir pada malam ‘Aqabah dan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Medan Uhud, Hudaibiyah, Khaibar, ‘Umratul Qadla’, Hunain tak lepas dari sejarah perjalanan hidupnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan semasa pemerintahan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dia turut terjun memerangi Musailamah Al Kadzdzab dalam perang Yamamah.
Kisah indah dan mengesankan dalam medan pertempuran Uhud, tatkala Ummu ‘Umarah radhiallahu ‘anha ikut berperan dalam kancah itu bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr serta kedua putranya, ‘Abdullah dan Habib radhiallahu ‘anhum. Dengan membawa geriba tempat air minum untuk memberi minum pasukan yang terluka, Ummu ‘Umarah berangkat bersama pasukan kaum muslimin di awal siang.
Pertempuran berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, tak tersisa di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang yang tak sampai sepuluh orang banyaknya. Di saat yang genting itu, Ummu ‘Umarah terjun langsung dalam peperangan dengan pedangnya. Bersama suami dan dua putranya, Ummu ‘Umarah mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melindungi di depan beliau dengan segenap kemampuan.
Tanpa perisai Ummu ‘Umarah melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara sebagian besar pasukan muslimin lari kocar-kacir. Di antara orang-orang yang berlarian menjauh dari beliau, ada seseorang yang lari membawa perisainya. Beliau pun berseru, “Berikan perisaimu pada orang yang berperang!” Orang itu pun melemparkan perisainya dan segera diambil oleh Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun bertameng dengannya. Demikian keadaan yang mereka hadapi saat itu, sementara lawan mereka adalah pasukan berkuda kaum musyrikin.
Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda memacu kudanya sembari menyabetkan pedangnya ke arah Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah menangkis tebasan itu dengan perisainya hingga orang itu tak berhasil berbuat sesuatu. Ummu ‘Umarah pun menebas kaki kudanya hingga penunggang kuda itu pun terjatuh. Menyaksikan hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera memanggil salah seorang putra Ummu ‘Umarah, “Ibumu! Ibumu!” Dengan cepat putra Ummu ‘Umarah datang membantu ibunya hingga dapat melumpuhkan musuh Allah itu.
Di tengah berkecamuknya perang, putra Ummu ‘Umarah, ‘Abdullah bin Zaid terluka di lengan kirinya, ditebas oleh seseorang yang sangat cepat datangnya dan berlalu begitu saja, tanpa sempat dia kenali. Darah pun mengucur tak henti. Melihat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Balut lukamu!” Ummu ‘Umarah pun datang membawa pembalut yang dipersiapkannya untuk membalut luka-luka, segera mengikat luka putranya, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri mengawasi. Usai mengikat luka, Ummu ‘Umarah berkata pada putranya, “Bangkitlah! Perangilah orang-orang itu!” Mendengar ucapannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang mampu melakukan seperti yang kaulakukan, wahai Ummu ‘Umarah?”
Kemudian datanglah orang yang melukai ‘Abdullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Itu orang yang menebas putramu!” Ummu ‘Umarah segera menghadangnya dan menebas betisnya hingga orang itu terjatuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum menyaksikannya hingga tampak gigi geraham beliau. Ummu ‘Umarah pun menebasnya bertubi-tubi hingga mati. RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Ummu ‘Umarah, “Segala puji milik Allah yang telah menolongmu serta menyenangkan hatimu dengan keadaan musuhmu dan memperlihatkan pembalasan itu di depan matamu.”
Ummu ‘Umarah pun menderita luka-luka dalam peperangan itu. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena tikaman pedang seorang musuh Allah dan Rasul-Nya, Ibnu Qami’ah. Saat itu, Ibnu Qami’ah datang dan berseru, “Tunjukkan aku pada Muhammad! Aku tidak akan selamat kalau dia selamat!” Dia pun segera dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair radhiallahu ‘anhu bersama para sahabat yang lain. Ummu ‘Umarah berada dalam barisan itu. Maka Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedangnya ke pundak Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun membalas dengan beberapa kali tebasan, namun musuh Allah itu mengenakan baju perang yang melindunginya.
Tatkala melihat Ummu ‘Umarah terluka di pundaknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru pada ‘Abdullah, “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu pada hari ini lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan suami ibumu lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait!”
Ummu ‘Umarah pun meminta, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar kami menemanimu di dalam surga!” Beliau pun berdoa, “Ya Allah, jadikan mereka orang-orang yang menemaniku di dalam surga.” Ummu ‘Umarah berkata, “Aku tidak peduli lagi apa yang menimpaku di dunia.”
Dua belas luka didapatkan oleh Ummu ‘Umarah dalam peperangan itu. Tikaman pedang Ibnu Qami’ah itulah luka yang paling parah yang diderita oleh Ummu ‘Umarah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya.
Keadaan luka yang sedemikian hebat tak menyurutkan semangat Ummu ‘Umarah untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Ketika kaum muslimin diseru untuk bersiap menuju peperangan di Hamra`il Asad, Ummu ‘Umarah pun menyingsingkan bajunya. Namun, dia tak kuasa menahan kucuran darah dari lukanya. Dalam semalam lukanya terus diseka hingga pagi.
Sepulang dari peperangan di Hamra`il Asad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammengutus ‘Abdullah bin Ka’b Al-Mazini untuk menanyakan keadaan Ummu ‘Umarah. ‘Abdullah bin Ka’b pun melaksanakan perintah beliau, kemudian menyampaikan kabar Ummu ‘Umarah kepada beliau.
Kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya terus diwujudkannya, sampai pun setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ketika Abu Bakr Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu menjabat sebagai khalifah, muncul seorang pendusta bernama Musailamah Al-Kadzdzab, yang mengaku sebagai nabi. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu pun memeranginya bersama pasukan kaum muslimin dalam perang Yamamah. Ummu ‘Umarah pun turut serta dalam pasukan itu. Di sanalah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan menderita sebelas luka lainnya karena tebasan pedang dan tusukan tombak. Di sanalah pula Ummu ‘Umarah kehilangan putranya, Habib bin Zaidradhiallahu ‘anhu.
Tak hanya dalam peperangan dia hadir di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pun Ummu ‘Umarah meriwayatkan ilmu dari beliau, serta menyebarkannya pada manusia. Perwujudan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan segala pengorbanan jiwa dan raga sepanjang perjalanan kehidupannya di dunia, mengantarkan dirinya untuk mendapatkan kemuliaan yang kekal selama-lamanya.
Ummu ‘Umarah, semoga Allah meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan:
*Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/265-266)
*Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1948-1949)
*Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/412-415)
*Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/278-282)

Selasa, 04 September 2012

Keutamaan Siwak

Dari Ali ra. berkata : “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak. Sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri sholat malaikat mendatanginya kemudian berdiri di belakangnya mendengar bacaan Al Qur’an dan ia mendekat. Maka ia terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya di atas mulut hamba itu, sehingga tidaklah dia membaca satu ayat pun kecuali berada di rongganya malaikat” (HR. Baihaqy)

Dalam kitab Ath-Thubbun Nabawi (Medis Nabawi) yang disusun dijelaskan manfaat siwak antara lain :

- membersihkan mulut,

- membersihkan gusi,
- mencegah pendarahan
- menguatkan penglihatan
- mencegah gigi berlubang
- menyehatkan pencernaan
- menjernihkan suara
- membantu pencernaan makanan
- memperlancar saluran nafas (bicara)
- menggiatkan bacaan
- menahan tidur
- meridhokan Allah Ta’ala
- dikagumi malaikat

Penelitian terbaru terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi.

Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti :
- Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive dan detergents yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi. Pada penggunaan siwak pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut.
- Kandungan kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
- Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.
- Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
Sebuah penelitian terbaru tentang ‘Periodontal Treatment’ (Perawatan gigi secara periodik/berkala) dengan mengambil sample terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para ilmuwan dari King Abdul Aziz University, Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal treatement untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada studi yang dilakukan terhadap negara-negara lain, hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan siwak berhubungan sangat erat terhadap rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap ‘Periodontal Treatment’.

Penelitian lain dengan menjadikan bubuk siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran bubuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kebersihan gigi secara sempurna adalah pasta gigi dengan butiran-butiran bubuk siwak, karena butiran-butioran tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Sehingga banyak perusahaanperusahaan di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO pun turut menjadikan siwak termasuk komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan. Mari kita budayakan hidup sehat dengan bersiwak…!!!

Sudah ada penelitian tentang siwak pada gigi. Mineral yang terdapat di dalam siwak seperti Natrium Klorida, Kalium, Sodium Bikarbonat dan Kalsium Oksida juga berfungsi membersihkan gigi. Bau harum dan rasanya yang enak, timbul dari minyak alamiah berjumlah 1% dari seluruh komposisi. Selain itu di dalam siwak juga terdapat enzim yang mecegah penyakit gusi. Komposisi alamiah yang terdapat pada siwak, ditiru dengan menambahkan zat-zat seperti yang terdapat pada siwak, pada pasta gigi buatan. Penelitian lain menyebutkan bahwa siwak berasal dari pohon Salvadore Persica yang tumbuh di sekitar kota Mekah dan Timur Tengah, jarang mempunyai diameter lebih dari satu kaki. Siwak memiliki kandungan antara lain; trimetil amine, klorida, fluorida dan silika. Karena khasiatnya yang baik, bahan ini juga dibuat dalam bentuk serbuk dan digunakan dengan sikat gigi biasa

Sebuah majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan yang bernama Rudat, direktur Institut Perkumanan Universitas Rostock. Dalam tulisannya itu ia berkata, “Setelah saya membaca tentang siwak yang biasa digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi, sejak saat itu pula saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan, bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan gigi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut serta gigi dari berbagai penyakit. Sebagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker.

Folder 4shared - Murattal JuzAmma Anak