Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Wearing Hijab (Mengenakan Jilbab)

 Memakai hijab atau Jilbab, masih ragu kah?

Seandainya #WearHijab hukumnya adalah sunnah, tentu ada wanita di zaman Rasul masih hidup yg tidak mengenakannya | ternyata semua kenakan

Seandainya #WearHijab bukan wajib, tentu Nabi tak susah payah ingatkan Muslimah untuk kenakan hijab | ternyata amaran itu sangat banyak


Seandainya #WearHijab hanya untuk masa lampau | mengapa sekalian shalat juga tiada dianggap urusan lampau?

Seandainya #WearHijab itu hanya untuk orang arab semata | maka tiada penting Allah maktubkan berulang kali di Al-Qur'an

Seandainya #WearHijab itu menyusahkan | berarti bertentangan dengan perkataan Allah, "tidak akan membebani kecuali manusia sanggup"

Seandainya #WearHijab itu dianggap tertinggal zaman | maka anggapan manusia tiada beratkan surga dan neraka, cukup abaikan
seandainya #WearHijab bukan kebaikan | untuk apa generasi sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in menggencarkannya?
#WearHijab lebih dari sekedar identitas yang menandai | hijab adalah kebanggaan pilihan diri

Karena terlalu banyak dosa yang diperbuat tanpa kita sadari | #WearHijab mengurangkan dosa yang kita perbuat tanpa kita ketahui

Bila lelaki menjadi dosa karena melihat aurat yang engkau pampangkan | cukup engkau berdosa karena jadi sarana maksiat
#WearHijab bukan hanya menekan nafsu bermaksiat pada dirimu | ia lebih menekan lelaki untuk bermaksiat kepadamu

#WearHijab segerakan, bukan hanya untuk dirimu, tapi ayah dan ibumu | karena Allah minta tanggung jawab atas terbuka auratmu
mantapkan hati, lalu #WearHijab | bila sulit, maka #WearHijab dan
mantapkan hati

#WearHijab dan rasakan energi yang Allah berikan saat engkau taat | rasa kecanduan dan ketagihan akan cinta-Nya, lebih dan lebih
selagi masih tersisa hitungan ramadhan, #WearHijab segerakan | selagi pahala dilipatkan, jangan tunda lagi, ayo kenakan
agar bila tiba masa takbiran kemenangan, engkau termasuk yg merayakan | karena ramadhan harusnya membuat perbedaan, #WearHijab segerakan!

by: Ustadz Felix Siauw.(Muslimahzone.com)

Fenomena Umum Di Kalangan Wanita

kebiasaan yg menjadi . Keluar rumah dngan mnggunakan parfum yg wanginy mnjelajahi segala ruang. Hal yg mnjadikan laki-laki lebih tergoda karena umpan wewangian yg manghampiriny..wew ^_^

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam amat keras mmperingatkn masalah trsebut. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :“Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati
suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka dia seorang pezina” (HR Ahmad).

Sbagian wanita mlalaikan dn mremehkn masalah ini, shingga dengn sembarangn mmakai parfum. Tak peduli di sampingny ada sopir, pnjual, saptam, atau orang lain yg tak mustahil akan trgoda

Dari Abu hurairah : “Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian (parfum) menerpanya.Maka Abu Hurairah berkata:”Wahai hamba Allah! apakah kamu hendak kemasjid?”ia menjawab:”Ya!” Abu Hurairah kemudian berkata lagi:”Pulanglah saja, lalu mandilah! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:”Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangiannya menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi (baru kemudian shalat kemasjid” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Al-baihaqi lihat silsilah Hadits Shahihah Syaikh Albani)

“Perempuan manapun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid (dengan tujuan) agar wanginya tercium orang lain maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi sebagaimana mandi jinabat” (HR Ahmad)...

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” (Syaikh Al Bani ).

syArat-syArat pakaian muslimah..
1. menutup seluruh badan kecuali yg dkecualikan

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

2. Kainny Harus Tebal, Tidak Tipis

“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim, Ahmad dan Imam Malik)

3. Hrus Longgar, Tdak Ketat

“Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)

Mka tidak tpat jika sseorang mncukupkn dngan mmakai rok, namun trnyata tetap mmperlihatkan pinggul, kaki atau betisny. Maka jika pkaian trsebut tlah ckup tebal dan longgar nmun tetap mmperlihatkn bntuk tubuh, maka dianjurkn bagi seorang muslimah untuk mmakai lapisan dlam. Namun janganlh mncukupkn dngan kaos kaki panjang, karena ini tdak cukup untuk mnutupi bntuk tubuh (trutama untuk para saudariku yg sring trsingkap rokny ktika mnaiki motor shingga trlihatlah bntuk betisny).

4. Tidak Dberi Wewangian atau Parfum

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR. Tirmidzi)

“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat isya’.” (HR. Muslim)

Syaikh Al Bani brkata, “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.”

5. Tidak Mnyerupai Pkaian Laki-Laki

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata
- Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
- Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syari’at sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)

6. Tdak Mnyerupai Pkaian Wanita-Wanita Kafir

Btapa kita ketahui, mreka (orang kafir) suka mnampakkn bntuk dan lekuk tubuh, mmakai pkaian yang transparan, tdak pduli dngan pnyerupaan pkaian wanita dngan pria. Bhkan trkadang mreka mndesain pkaian untuk wanita maskulin! Hanya kpada Allah-lah kita mmohon prlindungn dn mminta prtolongn untuk dijauhkn dari kecintaan kpada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid : 16)


Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Sabtu, 08 September 2012

Untukmu Wahai Mujahidah...

Janganlah sedih wahai Ummu Asy Syahid…


Sesungguhnya anakmu telah mati syahid walaupun orang-orang bathil dan sesat itu membencinya, mereka mengatakan apa yang diinginkan oleh thoghut, dan tidak mengatakan apa yang diinginkan oleh agama mereka yang telah mereka jadikan baju. Mereka mengatakan apa yang diinginkan oleh thoghut pada hari ini, mereka berkata bahwa jihad itu haram, di setiap zaman dan tempat. Mereka menginginkan untuk membacakannya dari ayat-ayatAl Qur’an. Akan tetapi sangat jauh… karena Al Qur’an memiliki Robb sebagai penjaganya… Mereka berkata bahwa anakmu yang telah tertumpah darahnya sebagai pembela agama tengah berjalan mengekor di belakang fitnah. Bahwa dia hanyalah seorang anak yang tertipu, dia itu khowarij… dia itu memiliki pemikiran yang rusak dan menular…Mereka juga membolak balikkan ayat-ayat Al Qur’an sesuai apa yang diinginkan oleh thoghut yang mereka sembah-sembah, mereka telah menyembunyikan apa yang Alloh berikan kepada mereka berupa keterangan-keterangan dan petunjuk. Mereka sebenarnya mengetahui ilmunya akan tetapi mereka diam tidak mengatakannya. Alloh telah mengancam orang yang melakukan amalan mereka itu dengan pecutan dari api neraka pada hari kiamat nanti, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya.
Karena para thoghut itu menginginkan mereka untuk itu, dan memperalat mereka untuk kebutuhan mereka yang keji dan jahat. Jika besok Amerika jatuh maka para thoghut tersebut akan bersekutu dengan para musuh Amerika supaya dapat mengalahkan peperangan melawannya. Dan menganggapnya sebagai amal yang paling utama.
Jika kutanyakan kepadanya apa dalil kalian? Dan apa yang merubah kalian?
Mereka akan menjawab: Kemaslahatan atau kepentingan umum… mereka telah mendahulukan kepentingan dari pada semua ayat Qur’an dan dari pada sebaik-baik perkataan manusia.
Wahai Ummu Syahid…

Mereka telah menuduh anakmu dengan sifat-sifat keji dankotor. Padahal sebenarnya demi Alloh… mereka itulah yang keji dan kotor. Mereka itulah yang telah mengkhianati agama Alloh ketika mereka dibutuhkan, dan di waktu hanya sedikit sekali para penolong agama. Maka kukatakan kepada mereka: Celakalah dan hancurlah mereka… Ya demi Alloh!!
Sesungguhnya Ummu syahid telah menemui perpisahan dengan anaknya, kemudian ditambah lagi dengan musibah dan ujian oleh orang-orang tersebut, wahai seandainya mereka itu diam dan tidak bicara tentang kehinaan mereka, sampai-sampai orang-orang awam pun percaya dengan berita dusta mereka. Di antara manusia ada yang menjauhinya walaupun hanya sekedar untuk mengatakan berbela sungkawa kepada ummu syahid disebabkan dia mengikuti fatwa-fatwa yang telah yang menguatkannya…semoga dia disegerakan untuk ke neraka.
Mereka telah menghukuminya dengan masuk ke dalam api neraka!!! Padahal mereka katanya menghindari sikap mengkafirkan orang!! Manakah yang lebih berat di sisi Alloh bagi kalian? Mengkafirkan orang atau menghukumi dengan neraka?
Maka benarlah sabda Rosululloh SAW bahwa mereka itua dalah para pemimpin kebodohan, penyeru kesesatan, dan mereka itu dimintai fatwa lalu memberikan fatwa tanpa ilmu.
Demi Alloh… kami tidak mencela pemimpin yang berdosa dan dholim dengan dosa dan kedholiman dia sebagaimana kami mencela mereka. Kebanyakan yang ditunggu oleh umat dari parapemimpin dholim adalah kekerasan, kedholiman dan kekejaman. Akan tetapi apa yang ditunggu dari orang-orang itu? Umat menunggu mereka supaya menerangkan kebenaran, namun mereka menutupi kebenaran dari umat dan telah mencampur adukkan kebenaran dengan kebathilan, dan mereka berkata untuk kebathilan. Ini adalah bathil!! Maka jangalah engkau perhatikan wahai Ummu Syahid… bahkan janganlah kalian dengarkan dari mereka wahai umat Islam…
Dan berhati-hatilah sebagaimana kamu berhati-hati darimusuhmu. Karena sesungguhnya hari ini mereka telah berdiri dibarisan musuh. Maka bersihkanlah tanganmu dari kekotoran dankenistaan mereka, sesungguhnya hati mereka telah dipenuhidengan kecintaan kepada dunia dan perbendaharaan mereka jugadipenuhi dengan emas dan rasa takut mati sampai merekamenemui kaki-kaki musuh mereka yang mereka takuti.
Janganlah engkau bersedih hati wahai Ummu syahid… Dan ingatlah bahwa anakmu akan datang pada hari kiamat dengan izin Alloh, sebagai seorang yang mati syahid, lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk (minyak kesturi), tidak hanya dapat memberikan syafaat untukmu seorang saja, tidak! Tapi untuk tujuh puluh dari keluarganya… dan diletakkan di atas kepalannya mutiara dari yaqut yang itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
Selamat bagimu wahai Ummu Syahid…
Engkau akan bangga pada waktu itu, walaupun mereka itu banyak yang mencela. Kepalamu akan tegak tinggi-tinggi menghadapinya.
Ummu Syahid…

Engkau mengingat anakmu sedangkan dia melantunkan sebuah lagu dengan penuh kesabaran dan keteguhan:

“Wahai ibuku, jika air matamu mengalir…
Atau engkau mengingat pertemuan…
Maka akan dijanjikan bagimu memory…
Dan menjadikan tangismu semakin bergolak…
Maka teguhkanlah dengan kesabaran sesaat…
Kemudian kirimkan doa kepadaku…
Dan ingatlah suatu hari yang sangat dekat…
Di sisi Robbku di atas langit…
Inilah pelipur lara wahai hatiku…
Ketika pelipur lara itu bermanfaat bagimu…

Wahai Ummu Syahid…

Bersabarlah karena sesungguhnya janji untukmu adalah surga.

Kamis, 06 September 2012

Asy-Syifa’ binti Al-Harits Radli Allahu 'Anha

  • Asy-Syifa’ binti Al-Harits Radli Allahu 'Anha





Nama lengkapnya adalah Asy-Syifa’ binti Abdullah 
bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad 
bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi 
bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah.

Asy-Syifa’ radhiyallahu ‘anha masuk Islam sebelum hijrahnya,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan 
beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan 
termasuk wanita yang berba’iat 
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam
Beliaulah yang disebutkan dalam 
firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu 
perempuan-perempuan yang beriman, 
untuk mengadakan janji setia bahwa
 mereka tidak akan
 mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, 
tidak akan mencuri, tidak akan berzina, 
tidak akan membunuh anak-anaknya, 
tidak akan berbuat dusta yang 
mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka,
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik,
maka terimalah janji setia mereka dan 
mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. 
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
 (Al-Mumtahanah: 12)

Asy-Syifa’ termasuk wanita yang cerdas dan utama, 
beliau seorang ulama di antara ulama dalam Islam dan
 tanah yang subur bagi ilmu dan iman. 
Asy-Syifa’ radhiyallahu ‘anhamenikah dengan 
Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi 
dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau
yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah. 
Asy-Syifa’ dikenal sebagai guru dalam membaca dan
menulis sebelum datangnya Islam,
sehingga tatkala beliau masuk Islam
 beliau tetap memberikan pengajaran 
kepada wanita-wanita muslimah dengan 
mengharapkan ganjaran dan pahala. 
Oleh karena itulah, 
beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. 
Di antara wanita yang dididik oleh Asy-Syifa’ adalah 
Hafshah binti Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anha,
istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam .

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
meminta kepada Asy-Syifa’ untuk 
mengajarkan kepada Hafshah tentang menulis dan 
sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa). 
Asy-Syifa’ berkata,

“Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam 
masuk sedangkan saya berada di samping Hafshah,
 beliau bersabda: 
‘Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah
 sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis’.”
 (HR Abu Daud).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa’ 
adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, 
maka tatkala beliau masuk Islam dan 
berhijrah beliau berkata kepada
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
“Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah 
dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda.
 Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
“Perlihatkanlah kepadaku.” Asy-Syifa’ berkata, 
“Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau
 yakni meruqyah penyakit bisul.”
Kemudian,
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, 
“Meruqyalah dengan cara tersebut dan
 ajarkanlah hal itu kepada Hafshah.”

Di antara yang termasuk ruqyah adalah do’a: 
“Ya Allah Tuhan manusia, 
Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, 
karena Engkau Maha Penyembuh, tiada
 yang dapat menyembuhkan selain Engkau, 
sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi.”
 (HR Abu Daud).

Inilah, Asy-Syifa’ telah mendapatkan bimbingan yang banyak dari 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam . 
Sungguh Asy-Syifa’ sangat mencintai 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana 
kaum mukminin dan mukminat yang lain, 
beliau belajar dari hadis-hadis 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak 
tentang urusan dien (agama) dan dunia. 
Beliau juga turut menyebarkan Islam dan 
memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah 
untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan. 
Di antara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah 
putranya yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, 
hamba sahayanya yaitu Ishak dan Hafshah Ummul Mukminin serta yang lain-lain. 
Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, 
menjaganya dan mengutamakannya dan
terkadang beliau mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, 
asy-syifa’ juga menghormati Umar, 
beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq (jujur), 
memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, 
bertakwa dan berbuat adil. 
Suatu ketika asy-Syifa’ melihat ada rombongan pemuda
yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, 
beliau bertanya, 
“Apa ini?”Mereka menjawab, 
“Itu adalah ahli ibadah.” Beliau berkata: 
“Demi Allah, Umar adalah orang yang
 apabila berbicara suaranya terdengar jelas, 
bila berjalan melangkah dengan cepat, 
dan bila memukul mematikan.”

Asy-Syifa’ menjalani sisa-sisa hidupnya setelah 
wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
dengan menghormati dan menghargai pemerintahan Islam 
hingga beliau wafat pada tahun 20 Hijriyah.

Ummu Umarah Radli Allahu 'anha


Kehidupan dunia dengan segala penderitaannya seolah tak lagi berarti baginya, manakala dia telah mendengar janji indah tentang surga. Sepenuh pengorbanan jiwa dan raga dia berikan untuk Allah dan Rasul-Nya.
Mungkin orang yang belum pernah mendengar namanya akan mengernyitkan dahi sembari bertanya, siapakah dia? Namun tak mungkin diingkari, dia adalah seorang shahabiyah yang memiliki untaian kemuliaan besar. Kemuliaannya tertulis dalam sejarah kaum muslimin. Dia bernama Nusaibah bintu Ka’b bin ‘Amr bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar radhiallahu ‘anha. Ibunya bernama Ar Rabbab bintu ‘Abdillah bin Habib bin Zaid bin Tsa’labah bin Zaid Manat bin Habib bin ‘Abdi Haritsah bin ‘Adlab bin Jasym bin Al Khazraj.
Ummu ‘Umarah dipersunting oleh Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar. Mereka dikaruniai dua orang putra, ‘Abdullah dan Habib, yang kelak di kemudian hari menjadi shahabat RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyertai beliau dalam medan peperangan. Sepeninggal suaminya, Ummu ‘Umarah menikah dengan Ghaziyah bin ‘Amr bin ‘Athiyah bin Khansa’ bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjarradhiallahu ‘anhu. Dari pernikahan mereka, lahir Tamim dan Khaulah.
Ummu ‘Umarah radhiallahu ‘anha menyambut datangnya seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah keislamannya itu, Allah Subhanahu wa Ta’alamenganugerahkan banyak kemuliaan padanya. Satu per satu peristiwa besar turut dilaluinya. Dia salah satu wanita yang hadir pada malam ‘Aqabah dan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Medan Uhud, Hudaibiyah, Khaibar, ‘Umratul Qadla’, Hunain tak lepas dari sejarah perjalanan hidupnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan semasa pemerintahan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dia turut terjun memerangi Musailamah Al Kadzdzab dalam perang Yamamah.
Kisah indah dan mengesankan dalam medan pertempuran Uhud, tatkala Ummu ‘Umarah radhiallahu ‘anha ikut berperan dalam kancah itu bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr serta kedua putranya, ‘Abdullah dan Habib radhiallahu ‘anhum. Dengan membawa geriba tempat air minum untuk memberi minum pasukan yang terluka, Ummu ‘Umarah berangkat bersama pasukan kaum muslimin di awal siang.
Pertempuran berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, tak tersisa di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang yang tak sampai sepuluh orang banyaknya. Di saat yang genting itu, Ummu ‘Umarah terjun langsung dalam peperangan dengan pedangnya. Bersama suami dan dua putranya, Ummu ‘Umarah mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melindungi di depan beliau dengan segenap kemampuan.
Tanpa perisai Ummu ‘Umarah melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara sebagian besar pasukan muslimin lari kocar-kacir. Di antara orang-orang yang berlarian menjauh dari beliau, ada seseorang yang lari membawa perisainya. Beliau pun berseru, “Berikan perisaimu pada orang yang berperang!” Orang itu pun melemparkan perisainya dan segera diambil oleh Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun bertameng dengannya. Demikian keadaan yang mereka hadapi saat itu, sementara lawan mereka adalah pasukan berkuda kaum musyrikin.
Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda memacu kudanya sembari menyabetkan pedangnya ke arah Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah menangkis tebasan itu dengan perisainya hingga orang itu tak berhasil berbuat sesuatu. Ummu ‘Umarah pun menebas kaki kudanya hingga penunggang kuda itu pun terjatuh. Menyaksikan hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera memanggil salah seorang putra Ummu ‘Umarah, “Ibumu! Ibumu!” Dengan cepat putra Ummu ‘Umarah datang membantu ibunya hingga dapat melumpuhkan musuh Allah itu.
Di tengah berkecamuknya perang, putra Ummu ‘Umarah, ‘Abdullah bin Zaid terluka di lengan kirinya, ditebas oleh seseorang yang sangat cepat datangnya dan berlalu begitu saja, tanpa sempat dia kenali. Darah pun mengucur tak henti. Melihat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Balut lukamu!” Ummu ‘Umarah pun datang membawa pembalut yang dipersiapkannya untuk membalut luka-luka, segera mengikat luka putranya, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri mengawasi. Usai mengikat luka, Ummu ‘Umarah berkata pada putranya, “Bangkitlah! Perangilah orang-orang itu!” Mendengar ucapannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang mampu melakukan seperti yang kaulakukan, wahai Ummu ‘Umarah?”
Kemudian datanglah orang yang melukai ‘Abdullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Itu orang yang menebas putramu!” Ummu ‘Umarah segera menghadangnya dan menebas betisnya hingga orang itu terjatuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum menyaksikannya hingga tampak gigi geraham beliau. Ummu ‘Umarah pun menebasnya bertubi-tubi hingga mati. RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Ummu ‘Umarah, “Segala puji milik Allah yang telah menolongmu serta menyenangkan hatimu dengan keadaan musuhmu dan memperlihatkan pembalasan itu di depan matamu.”
Ummu ‘Umarah pun menderita luka-luka dalam peperangan itu. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena tikaman pedang seorang musuh Allah dan Rasul-Nya, Ibnu Qami’ah. Saat itu, Ibnu Qami’ah datang dan berseru, “Tunjukkan aku pada Muhammad! Aku tidak akan selamat kalau dia selamat!” Dia pun segera dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair radhiallahu ‘anhu bersama para sahabat yang lain. Ummu ‘Umarah berada dalam barisan itu. Maka Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedangnya ke pundak Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun membalas dengan beberapa kali tebasan, namun musuh Allah itu mengenakan baju perang yang melindunginya.
Tatkala melihat Ummu ‘Umarah terluka di pundaknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru pada ‘Abdullah, “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu pada hari ini lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan suami ibumu lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait!”
Ummu ‘Umarah pun meminta, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar kami menemanimu di dalam surga!” Beliau pun berdoa, “Ya Allah, jadikan mereka orang-orang yang menemaniku di dalam surga.” Ummu ‘Umarah berkata, “Aku tidak peduli lagi apa yang menimpaku di dunia.”
Dua belas luka didapatkan oleh Ummu ‘Umarah dalam peperangan itu. Tikaman pedang Ibnu Qami’ah itulah luka yang paling parah yang diderita oleh Ummu ‘Umarah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya.
Keadaan luka yang sedemikian hebat tak menyurutkan semangat Ummu ‘Umarah untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Ketika kaum muslimin diseru untuk bersiap menuju peperangan di Hamra`il Asad, Ummu ‘Umarah pun menyingsingkan bajunya. Namun, dia tak kuasa menahan kucuran darah dari lukanya. Dalam semalam lukanya terus diseka hingga pagi.
Sepulang dari peperangan di Hamra`il Asad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammengutus ‘Abdullah bin Ka’b Al-Mazini untuk menanyakan keadaan Ummu ‘Umarah. ‘Abdullah bin Ka’b pun melaksanakan perintah beliau, kemudian menyampaikan kabar Ummu ‘Umarah kepada beliau.
Kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya terus diwujudkannya, sampai pun setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ketika Abu Bakr Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu menjabat sebagai khalifah, muncul seorang pendusta bernama Musailamah Al-Kadzdzab, yang mengaku sebagai nabi. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu pun memeranginya bersama pasukan kaum muslimin dalam perang Yamamah. Ummu ‘Umarah pun turut serta dalam pasukan itu. Di sanalah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan menderita sebelas luka lainnya karena tebasan pedang dan tusukan tombak. Di sanalah pula Ummu ‘Umarah kehilangan putranya, Habib bin Zaidradhiallahu ‘anhu.
Tak hanya dalam peperangan dia hadir di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pun Ummu ‘Umarah meriwayatkan ilmu dari beliau, serta menyebarkannya pada manusia. Perwujudan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan segala pengorbanan jiwa dan raga sepanjang perjalanan kehidupannya di dunia, mengantarkan dirinya untuk mendapatkan kemuliaan yang kekal selama-lamanya.
Ummu ‘Umarah, semoga Allah meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan:
*Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/265-266)
*Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1948-1949)
*Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/412-415)
*Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/278-282)