Tampilkan postingan dengan label True of Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True of Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

KALAU TEPUK TANGAN DAN SIULAN SAJA DISEBUT IBADAH APALAGI HORMAT BENDERA

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :
وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

"Tidaklah sholat (ibadah) mereka (kaum musyrik) di sekitar Baitullah itu, kecuali hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (QS Al Anfal 35)

Rasulullah Shollallohu 'alaihi Wasallam Bersabda

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukanlah golongan kami, mereka yang mengajak kepada Nasionalisme",. (HR Abu Dawud)


« مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ »


‎ 
"Barangsiapa yang berperang dengan slogan primordialisme, mendakwahkan (mengajak & menyerukan) nasionalisme atau membantu menegakkan nasinalisme, lalu ia mati MAKA IA MATI DALAM KEADAAN JAHILIYYAH". (HR. Muslim)

Lalu marilah kita bandingkan antara tepuk tangan dan siulan dengan upacara bendera dan segala pernik-perniknya

  • Penanaman Nasionalisme dalam penghormatan bendera dan upacara  adalah dakwah Jahiliyyah sebagaimana hadits di atas

  • Mengheningkan cipta adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan ibadahnya agama Hindu, Budha dan Kristen. Sedangkan Rasulullah Shollallohu 'alaihi Wasallam melarang keras meniru upacara agama lain.  

  • Di antara bunyi syair lagu Indonesia Raya adalah : "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya UNTUK INDONESIA RAYA = syair ini telah membatalkan pernyataan kita setiap sholat : "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, HANYALAH UNTUK ALLAH RABB SEMESTA INI"

  • Dalam lagu Berkibarlah Benderaku terdapat syair "Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela …. " Apakah ini bukan kalimat syirik ? 

Padahal Rasulullah bersabda dalam hadits shahih (artinya) :

      واِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللهِ لاَ يُلْقِى لَهاَ بَالاً فيَهْوِى بِهاَ فِى جَهَنَّمَ

“Ada seseorang yang mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah, sedangkan ia mengucapkannya tanpa tujuan yang jelas, tetapi disebabkan kalimat itu Allah Melmparkannya ke dalam neraka jahannam” (Muttafq Alaih) . Na’udzu billah


  • Di antara bunyi syair lagu Wajib “Padamu Negeri” adalah : “Bagimu Negeri JIWA RAGA KAMI” : ini adalah seruan jahiliyyah dan bertentangan dengan syahadat kita dan bisa menggugurkan ke Islaman pengucapnya

Padahal Allah Azza Wa Jalla Berfirman  :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS Al An’am 162 – 163)


  • Dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 4/52 disebutkan : “Orang-orang Musyrik Quraisy mengelilingi Ka’bah dengan telanjang tanpa sehelai benang pun sambil bersiul-siul dan bertepuk tangan”. Dan ini oleh Allah disebut sholatnya kaum musyrik

 Maka kalau sambil telanjang, tepuk-tepuk tangan dan siulan saja oleh Allah disebut "sholat" krn di situ ada makna pengagungan dan ketundukan kpd Latta, Uzza dan Manath, walaupun dalam bentuk yang mungkin aneh bagi kita, apalagi penghormatan bendera yg di dalamnya ada tujuan pengagungan thd bendera, bahkan rela mati demi Sang Saka Merah Putih dsb. Apa bedanya dengan orang Jahiiyyah dulu ?

  • Berikut ini tafsir Al Anfal 35 versi Departemen Agama : " Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu".
Seterusnya Allah swt. menerangkan sebab-sebab mereka tidak berhak menguasai Baitullah, dan daerah haram, yaitu karena mereka dalam waktu beribadat, mengerjakan tawaf mereka bertelanjang dan bersiul-siul serta bertepuk tangan.

روى عن إبن عباس رضى الله عنهما: كانت قريش تطوف بالبيت عراة تصفر وتصفق

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallohu 'Anhu : “Orang-orang Quraisy mengitari Baitullah dalam keadaan telanjang, bertepuk tangan dan bersiul-siul”. (H.R Ibnu Abi Hatim dari Ibnu 'Abbas)

Dan diriwayatkan juga dari beliau :
وروى عنه: أن الرجال والنساء منهم كانوا يطوفون عراة مشبكين بين أصابعهم يصفرون منها ويصفقون

Artinya :

“Bahwa orang-orang Quraisy itu baik laki-laki maupun perempuan, mengelilingi Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka saling berbimbingan tangan, bersiul-siul dan bertepuk tangan”. (H.R Ibnu Abi Hatim dari Ibnu 'Abbas)

  • Manakah yg lebih sakral dan lebih pantas disebut sebagai ibadah : tepuk tangan dan siulan atau upacara bendera dengan segala tata tertib nya ?

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa makna ibadah adalah : “Ketundukan, ketergantungan, kepatuhan, merasa takut dengan hukuman yg akan ditimpakan, menyerah pasrah, mencintai dan merasa kehilangan manakala tidak ada di dekatnya” . BUKANKAH INI SEMUA YANG AKAN DITANAMKAN KEPADA RAKYAT INDONESIA TERHADAP BENDERA DAN TANAH AIRNYA DALAM SETIAP UPACARA DAN PENGHORMATAN BENDERA ?

Dalam Syarah Kitab Tauhid, disebutkan :
تفسير العبادة، وهي: التذلل والخضوع للمعبود خوفاً ورجاء ومحبة وتعظيماً    القول المفيد على كتاب التوحيد -

Tafsir dari Ibadah adalah : “Merendahkan diri dan tunduk patuh kepada yang diibadahi, dengan disertai rasa takut (akan hukuman), kecintaan yg dalam dan penghormatan serta pengagungan kepadanya " (Al Qaul Al mufid ‘Ala kitab Tauhid juz 1 hal 320)

Untuk lebih memperjelas makna IBADAH, berikut tambahan saya

Allah Azza wa jalla berfirman (artinya)“Mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadikan orang-orang 'alim dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allâh”. (QS At Taubah 31)

Apakah yang dimaksud menjadikan orang-orang 'alim dan rahid-rahib sebagai tuhan-tuhan selain Allâh? Apakah mereka sujud, menyembah kepada orang-orang 'alim dan rahib-rahib itu seperti orang-orang musyrik menyembah berhala ?

Al-Imâm Ibnu Katsîr telah menjelaskan masalah ini dengan sebuah hadits dari jalur Al-Imâm Ahmad, At-Tirmidzî dan Ibnu Jarîr; yaitu hadits yang mengisahkan kedatangan 'Adî bin Hâtim ke Madînah dalam rangka kunjungannya yang pertama kepada Rasûlullâh Shollallohu 'alihi wasallam .

-- ketika itu 'Adî masih beragama Nasrani -- dan memakai kalung salib dari perak. Maka Rasûlullâh saw. pun membacakan ayat ini (Surah At-Taubah (9) : 31) di hadapan 'Adî bin Hâtim : “Mereka (Yahûdi dan Nasrani) menjadikan orang-orang 'alim dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allâh”. (QS At Taubah 31)


'Adî bin Hâtim segera menyanggah dengan mengatakan :  
“Sesungguhnya mereka tidak pernah ber'ibâdah (menyembah) kepada orang-orang 'alim dan para pendeta”.

Maka Rasûlullâh Shollallohu 'alihi wasallam pun segera menjawab : Sesungguhnya orang-orang 'alim dan para pendeta itu mengharamkan sesuatu yang halal terhadap mereka dan menghalalkan sesuatu yang haram, maka mereka pun menta'atinya. Demikian itulah penyembahan (ibadah) mereka kepada orang-orang 'alim dan para pendeta itu. (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz II hal.348)


Mereka memang tidak melakukan sujud kepada para pendeta atau orang-orang 'alim mereka, akan tetapi mereka mentaati para pendeta dan orang-orang 'alim itu sedemikian rupa hingga hukum halal-haram bagi mereka adalah menurut aturan pendeta dan orang 'alim, bukan menurut Allâh. Inilah pengertian atau makna 'ibâdah yang sesungguhnya; yaitu : “Ta'at (patuh) dan merendahkan diri”, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Bukankah sikap pemerintah terhadap mereka yang menolak menghormat bendera atau menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan alasan Nasionalisme atau berbagai alasan lain yang yang mengada-ada sudah sangat nyata menunjukkan betapa bendera dan lagu kebangsaan dikultuskan sedemikian tingginya bahkan melebihi Rasulullah ?

Pernahkah pemerintah ini sedemikian gusar melihat orang yang tidak puasa, tidak sholat atau tidak membayar zakat seperti gusarnya mereka melihat orang tidak mau hormat bendera ?

Apakah mereka sebegitu gusar manakala lafadz "Allah" diinjak-injak oleh Ahmad Dhani atau saat Lia Eden mengaku sebagai Nabi, atau Ahmadiyyah menodai Islam ? Bukankah bendera Merah Putih, Indonesia Raya dan simbol-simbol jahiliyyah lainnya, lebih mereka junjung tinggi dan mereka hormati dibanding Allah dan Rasul-Nya.


Di NKRI ini seseorang bisa bebas menghina Allah, Rasulullah dan Dien Al Islam, tapi mereka  tidak boleh sama sekali menghina Merah Putih atau Garuda Pancasila. Hukuman penjara telah menanti  Allahu Musta'aan.

Sikap represif pemerintah terhadap mereka yang tidak mau hormat bendera atau ikut upaca bendera, semakin menunjukkan bahwa ini bukan sekedar masalah sepele, tapi ini soal IMAN dan AQIDAH.


Masihkah kita ragu bahwa musuh-musuh Allah  sudah mengobok-obok aqidah dan iman kita serta mengancam syahadat anak istri dan keluarga kita ?


CATATAN PENTING ;

Bukan hukum tepuk tangannya atau bersiul  yg kita masalahkan, tetapi pengagungan sesuatu selain Allah dengan cara bertepuk tangan dan bersiul. Bukan hanya tepuk tangan yang bisa disebut ibadah, bahkan kedipan mata seorang pendeta Barghisah yang merupakan isyarat ketundukan dan kepatuhan kepada iblis, sudah menyebabkannya murtad. Silahkan antum baca Tafsir surah Al Hasyr ayat 16

“Seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam." (QS Al Hasyr 16)

APAKAH LALU BERARTI MENGEDIPKAN MATA HUKUMNYA HARAM ?

Yg sedang saya bahas di sini adalah bahwa  ibadah bukan hanya rukuk sujud, bahkan tepuk tangan, kedipan mata, desiran hati pun bisa menjadi ibadah jika itu dimaksudkan sebagai pengagungan, kepatuhan, ketundukan dan ketaatan mutlak kpd sesuatu.

Kemunafikan

Kemunafikan

( النفاق )

Definisi

-secara bahasa berarti menampakkan sesuatu dan menyembunyikan lawannya

- secara istilah berarti menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran



Ragam kemunafikan

- Nifaq akbar (besar) : yaitu kemunafikan yang menjadi keyakinan kuat dalam diri seseorang dengan menampakkan islam lewat mulutnya dan amalannya sedang hatinya sangat membencinya dan mengkufurinya

- Nifaq asghor (kecil) : yaitu kemunafikan yang nampak dari perbuatannya dengan menyelisihi syari’at



Perbedaan antara keduanya

Nifaq akbar bisa mengakibatkan pelakunya menjadi ahlu neraka selama-lamanya kondisinya sama seperti orang kafir. Adapun nifaq ashgor adalah dosa besar namun tidak menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka


Kemunculan kaum munafiq

Sejarah Islam mencatat bahwa munculnya kaum munafiqin dimulai ketika dakwah Islam sudah merambah ke dataran Yastrib ( Madinah ). Adapun pada fase dakwah Islam di Makkah terdapat hanya dua kelompok saja; yaitu kaum mukminin dan kaum musyrikin.

Sebagaimana yang dicatat dalam banyak kitab sejarah Islam, bahwa pelopor kaum munafiqin pada masa Nabi Salallahu alaihi wasallam adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Konon, dia adalah pembesar dari bani Khozroj yang sangat berpengaruh dan menjadi kandidat utama untuk dijadikan raja dan pemimpin untuk kota Yastrib saat itu sebelum datangnya Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam. Setelah hijrahnya Nabi Salallahu alaihi wasallam penduduk Madinah mengangkat beliau sebagai pemimpin mereka. Inilah salah satu faktor yang membangkitkan kedengkian dalam diri Abdullah bin Ubay terhadap diri Nabi Salallahu alaihi wasallam. Dari sinilah bibit kemunafikan tumbuh dalam dirinya.

Sejarah telah menyaksikan pula betapa kejinya makar kaum munafiqin dalam memerangi islam dari dalam. Mulai dari pembelotan sejumlah pasukan yang turut serta dalam perang badar hingga konspirasi pembunuhan Nabi Salallahu alaihi wasallam. Hingga kini, kaum munafiqin senantiasa merongrong kekuatan kaum muslimin dan berupaya menjegal upaya penegakan hokum-hukum Allah .



Hal-hal yang menyebabkan nifaq akbar (nifaq I’tiqody)

- mendustakan Rasulullah Salallahu alaihi wasallam secara keseluruhan ataupun sebagian

- mendustakan sebagian yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu alaihi wasallam

- membenci Rasulullah Salallahu alaihi wasallam

- membenci sebagian yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu alaihi wasallam

- menyembunyikan anggapan akan kerendahan syariat Islam membenci jika kemenangan berada di pihak Islam



Perkara-perkara yang menyebabkan nifaq ashghor (nifaq amali)

-suka berbohong
-suka menyelesihi janji
-suka berkhianat
-berlebih-lebihan dan melampaui batas ketika berselisih
-suka melanggar sumpah dan janji



Beberapa sifat orang munafiq

- bermalas-malasan sholat terutama sholat shubuh dan ‘isya
- suka menghalang-halangi jalan menuju Alloh
- mudah sekali untuk kufur



Ancaman bagi munafiq :

Allah berfirman :

Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.(QS : An-Nisaa :145)

Abu Harits

Referensi:

- Dr. Ibrohim bin Muhammad Al Buroikan, Al Madkhol li Dirosatil Aqidah Al Islamiyah ‘ala madzhab Ahlus Sunnah wal jama’ah.
- Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdulloh Al Fauzan, ‘Aqidatut Tauhid, Riyadl, Daar Al Qoosim.

elbahry.wordpress.com

Minggu, 09 September 2012

10 Pembatal Ke Islaman

10 Pembatal Keislaman 
﴿ نواقض الإسلام ﴾
]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah
                   










 نواقض الإسلام
« باللغة الإندونيسية » 



الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله 


ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي
مراجعة: إيكو هاريانتو أبو زياد









10 Pembatal Keislaman

Pertanyaan.: Apakah pembatal-pembatal Islam?

Jawaban : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata: 'Ketahuilah, sesungguhnya pembatal islam terbesar ada sepuluh perkara:        

Pertama:  
syirik dalam beribadah kepada Allah yang tiada sekutu baginya, berdasarkan firman Allah :
قال الله تعالى: ﴿إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. an-Nisa` :48)
 Termasuk syirik adalah menyembelih bukan karena Allah , termasuk orang yang menyembelih untuk jin atau kubah.

Kedua: Barangsiapa yang menjadikan perantara di antaranya dan di antara Allah, berdoa dan meminta syafaat kepada mereka niscaya ia menjadi kafir secara ijma'.

Ketiga: Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan kepercayaan mereka niscaya kafir secara ijma'.

Keempat: Barangsiapa yang meyakini bahwa selain syari'at Nabi lebih sempurna dari pada petunjuknya , atau sesungguhnya hukum selainnya lebih baik dari pada hukumnya , seperti orang-orang yang mengutamakan hukum thaghut di atas hukumnya , maka dia kafir.

Kelima: Barangsiapa yang membenci sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah , sekalipun mengamalkannya, niscaya ia kafir dengan ijma', berdasarkan firman Allah :
قال الله تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَآأَنزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
(Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad:9)

Keenam: Barangsiapa yang mengolok-olok sesuatu dari agama Allah , atau pahalanya , atau siksanya niscaya ia menjadi kafir, berdasarkan firman Allah :
قال الله تعالى: ﴿قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ * لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Katakanlah:"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". * Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS. Taubah :65-66)

Ketujuh: sihir, dan termasuk jenis sihir sharf  (pengasih, supaya mengasihi) dan 'athf (pembenci, supaya membenci). Maka barangsiapa yang melakukannya atau ridha dengannya niscaya ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah :
قال الله تعالى: ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ
…sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir"… (QS. al-Baqarah:102)

Kedelapan: Membela orang-orang musyrik dan menolong mereka melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah I:
قال الله تعالى: وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. al-Maidah:51)

Kesembilan: Barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi r, dan sesungguhnya ia bisa keluar dari syari'atnya r, sebagaimana Khadir u keluar dari syari'at Musa u, maka dia kafir.

Kesepuluh: berpaling dari agama Allah I, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya, berdasarkan firman Allah I:
قال الله تعالى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِئَايَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَآ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (QS. Sajdah :22)

Tidak adalah perbedaan pada semua pembatal iman ini di antara bercanda, serius dan takut, kecuali orang yang dipaksa, dan semuanya termasuk bahaya yang besar dan yang paling banyak terjadi. Seorang muslim harus berhati-hati dan takut darinya atas dirinya, dan berlindung kepada Allah  dari yang menyebabkan murka-Nya dan kepedihan siksa-Nya. semoga Allah I memberi rahmat kepada Muhammad.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – ad-Durarus Saniyah cet/5 (10/91).